RajaKomen
Anies Baswedan: Isu Lingkungan Bukan Menyelamatkan Bumi, tapi Kehidupan Makhluk Hidup

Anies Baswedan: Isu Lingkungan Bukan Menyelamatkan Bumi, tapi Kehidupan Makhluk Hidup

27 Jan 2026
270x
Ditulis oleh : IdeBlog

Isu lingkungan sekarang ini kerap disederhanakan dengan slogan Save the Earth. Tapi, Anies Baswedan mengingatkan bahwa cara pandang tersebut perlu diluruskan. Menurut Anies Baswedan, bumi tidak sedang berada di ujung kehancuran, justru manusia dan seluruh makhluk hiduplah yang berada dalam posisi paling menghawatirkan.

Anies menegaskan bahwa bumi telah melewati berbagai fase ekstrem, baik panas maupun dingin, jauh sebelum manusia hadir. Karena itu, persoalan lingkungan sejatinya bukan tentang menyelamatkan bumi, melainkan bagaimana menjaga keberlangsungan kehidupan di atas planet ini.

“Sebagai Makhluk kita hanya meminjam bumi ini dari anak cucu. Maka kita akan mengembalikannya dalam kondisi yang lebih baik,” tegas Anies dalam video yang diunggah di akun pribadi.

Pandangan Anies Baswedan tentang bumi ini mendapat dukungan dari pengamat lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Khamim Zarkasih Putro. Ia menilai krisis ekologis saat ini sudah melampaui batas isu sektoral dan telah menjadi persoalan keberlangsungan hidup bersama.

“Kerusakan bumi sejatinya adalah cermin dari pola hidup manusia yang tidak adil terhadap lingkungan. Alam memiliki kemampuan pulih, tetapi manusia dan makhluk hidup lain justru yang paling rentan terdampak,” ujar Khamim saat dihubungi KBA News, Rabu, 21 Januari 2026.

Menurutnya, jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh generasi sekarang, tetapi juga akan membebani generasi mendatang.

Tantangan Kerusakan Lingkungan Kian Kompleks

Khamim menjelaskan, ada sejumlah tantangan besar yang mempercepat laju kerusakan lingkungan global.

Pertama, polusi akibat limbah industri dan domestik yang tidak terkelola dengan baik menjadi ancaman serius. Selain mencemari lingkungan, polusi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit kronis.

Kedua, pembukaan hutan untuk pertanian, pertambangan, dan urbanisasi menyebabkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Hutan yang seharusnya menyerap karbon justru berubah menjadi sumber emisi gas rumah kaca.

Ketiga, emisi gas rumah kaca memicu kenaikan suhu global, cuaca ekstrem, serta meningkatnya bencana hidrometeorologi. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya biodiversitas akibat rusaknya habitat alami dan pencemaran lingkungan.

Solusi Lingkungan Harus Dimulai Sekarang

Menghadapi krisis tersebut, Khamim menilai solusi lingkungan harus dilakukan secara simultan, mulai dari kebijakan negara hingga aksi nyata masyarakat. Beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat antara lain:

  • Pengurangan polusi melalui teknologi ramah lingkungan dan pengendalian limbah
  • Reboisasi dan restorasi hutan untuk memulihkan ekosistem
  • Transisi ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin
  • Pengelolaan limbah berkelanjutan, termasuk pengurangan plastik sekali pakai

Pendidikan lingkungan sejak dini untuk membangun kesadaran ekologis

“Tanpa pendidikan lingkungan yang kuat, kebijakan sehebat apa pun akan sulit berjalan efektif,” tegasnya.

Aksi Individu Jadi Kunci Perubahan

Selain kebijakan, peran individu dinilai sangat menentukan. Khamim menekankan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Langkah sederhana seperti menghemat air dan listrik, menggunakan transportasi publik atau bersepeda, mengurangi konsumsi daging, serta memilih produk ramah lingkungan dapat berkontribusi menekan emisi gas rumah kaca. “Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” pungkas Khamim.

Berita Terkait
Baca Juga:
Reputasi

Peran Review Konsumen dalam Kesuksesan Digital UMKM

Tips      

29 Apr 2025 | 365


Di era digital saat ini, keberadaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Namun, untuk bisa bersaing, UMKM perlu lebih dari sekadar produk ...

Gaji Lulusan Teknik Sipil: Berapa yang Bisa Kamu Dapatkan?

Gaji Lulusan Teknik Sipil: Berapa yang Bisa Kamu Dapatkan?

Pendidikan      

21 Maret 2025 | 1729


Jurusan Teknik Sipil adalah salah satu pilihan yang populer di kalangan calon mahasiswa, terutama bagi mereka yang memiliki minat terhadap desain, konstruksi, dan manajemen proyek ...

pesantren al masoem

Pesantren Al Masoem: Pesantren Modern di Bandung

Pendidikan      

9 Mei 2024 | 897


Pesantren Al Masoem, sebuah pesantren modern yang berlokasi di Bandung, menawarkan pendidikan Islam yang holistik dan berkualitas. Dikenal sebagai salah satu pesantren modern terkemuka di ...

Review RajaSEO.com: Jasa SEO Profesional yang Wajib Dicoba untuk SEO Website Anda

Review RajaSEO.com: Jasa SEO Profesional yang Wajib Dicoba untuk SEO Website Anda

Bisnis      

25 Maret 2025 | 287


Di era digital saat ini, memiliki kehadiran online yang kuat menjadi tuntutan bagi setiap bisnis. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan visibilitas website adalah dengan menggunakan ...

english

Baru Mulai Belajar Bahasa Inggris? Tryout Online Ini Cocok Buat Kamu!

Pendidikan      

20 Apr 2025 | 501


Belajar Bahasa Inggris merupakan langkah penting di era globalisasi saat ini. Baik untuk kebutuhan akademis, karier, maupun untuk keperluan sehari-hari, kemampuan berbahasa Inggris dapat ...

Omicron BA.4 dan BA.5 Ada di Indonesia, Satgas IDI: Covid-19 Tidak Akan Hilang Sepenuhnya

Omicron BA.4 dan BA.5 Ada di Indonesia, Satgas IDI: Covid-19 Tidak Akan Hilang Sepenuhnya

Kesehatan      

11 Jun 2022 | 1244


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons upaya Singapura yang sudah siap-siap menghadapi gelombang baru Omicron pada Juli 2022 mendatang. Menurutnya kenaikan kasus Covid-19 di ...