MU
Mengungkap Dalang Mafia Minyak Goreng

Mengungkap Dalang Mafia Minyak Goreng

1 Apr 2022
485x
Ditulis oleh : IdeBlog

Orang boleh saja menggugat Menteri Perdagangan atau menjulukinya “cakap angin” berkaitan dengan sesumbarnya untuk membekuk mafia minyak goreng, tapi pertanyaannya: apa alasannya orang itu masih dipertahankan sebagai menteri? Mengapa tidak segera dicopot?

Mendag adalah pembantu presiden (sementara presiden adalah petugas partai). Ia melakukan 3 kesalahan fatal: 1) mengaku sendiri tidak bisa menangani mafia; 2) (tapi) ‘berbohong’ ingin mengumumkan siapa mafia; 3) bukti yang dikumpulkan oleh instansinya ternyata dinilai tidak cukup kuat oleh penegak hukum.

Ia, dalam jabatannya, mewakili presiden. Dengan demikian bisa disimpulkan Presiden pun takluk di tangan mafia. Sesimpel itu.

Jika keberatan dibilang demikian, segeralah Jokowi copot menteri itu dan perintahkan penegak hukum melakukan Operasi Mama Mia seperti ketika Italia membabat habis mafia minyak zaitun. Tangkap semuanya: boss/don, underboss, capos, soldiers, associates, consigliere…

Banyak berita tentang mafia migor tapi sedikit yang sebut siapa saja pemainnya. Kenapa ragu? Bahasa terang saja. Struktur pasar migor Indonesia adalah oligopoli alias dikuasai beberapa pelaku usaha. Secara kasar pasar dikuasai 4 pelaku usaha dengan penguasaan minimal 40%.

Migor curah dikuasai Wilmar Group, Musim Mas Group, PT Smart, Tbk (Sinar Mas), PT Asian Agro Agung Jaya. Migor kemasan (bermerek) dikuasai PT Salim Ivomas Pratama, Wilmar Group, PT Smart Tbk (Sinar Mas), dan PT Bina Karya Prima. Itu semua fakta, tercatat di putusan KPPU 4 Mei 2010 tentang kartel minyak goreng. Sekarang bagaimana? Ya, menurut saya, tidak jauh beda penguasanya.

Lalu siapa yang memainkan harga? Gelap!

Produsen mengontrol harga migor kemasan hanya sampai distributor, di mana distributor mendapat marketing fee kisaran 5%. Untuk migor curah, beda. Produsen tidak tunjuk distributor tapi menjual langsung ke konsumen antara (penjual besar) dengan sistem jual beli putus. Kontrol harga cuma sampai batas barang keluar gudang produsen.

Di sepanjang rantai itu, siapa pelaku perekayasa harga? Siapa yang kontrol supply-demand? Siapa pejabat yang mem-back up? Tangkap dong.

“Behind every great fortune there is a crime”. Bagaimana membuktikannya?

Catatan saya dari kekalahan KPPU dari kasus kartel minyak goreng adalah memang pembuktian KPPU lemah. Dia pakai indirect evidence yang oleh MA tidak diakui sebagai alat bukti yang sah. Indirect evidence itu pun cuma bukti komunikasi pertemuan antara produsen dan Kemendag serta bukti analisis ekonomi tentang potensi kerugian akibat kartel. Sementara para terlapor (diduga kartel) agresif bertahan (mereka punya banyak sumber daya termasuk materi) dan akhirnya hampir seluruh dalil mereka diterima oleh hakim MA dalam putusan.

Kredibilitas KPPU pun lemah. Cek masa lalu soal skandal suap komisionernya yang berkaitan dengan eksekutif grup Lippo, pun ketika Prakerja, saya alami sendiri, bagaimana sikapnya berbelok cenderung ‘melindungi’ swasta platform digital.

Cerita kartel migor pun senyap lagi.

Lalu negara ini bisa apa lawan mafia migor? Padahal, Wakil Ketua DPR bilang mafia migor tidak ada, kalau di komoditas lain ada. Mendag-nya mengaku tak bisa menangani. Ketua Umum partai pemenang pemilunya sarankan menggoreng diganti merebus. Presidennya cuma galak di rapat sambil angkat-angkat plastik minyak tapi mana operasi mama mia-nya.

Langkah kecil harus ada. Minimal copot Mendag dan kembalikan dia ke habitatnya mengurusi grup media dan periklanannya atau kembali menjadi pengurus perusahaan Bakrie atau Medco. Buat apa pertahankan orang yang takluk tapi negara terus menggaji, memfasilitasi, dan memberinya kewenangan.

Masalah migor ini seperti akuarium. Masyarakat sudah tahu dan merasakan sendiri bahwa ada permainan di dalamnya. Semakin banyak yang tahu juga bahwa grup-grup konglomerat ada perannya juga di situ. Semakin disebut-sebut mafia, masyarakat semakin pintar untuk paham bahwa mafia bekerja dengan cara bergandeng tangan dengan sejumlah pejabat. Paham pula bahwa semakin tinggi harga CPO semakin buas nafsu produsen/pedagang untuk jual ke luar (ekspor). Semakin langka, semakin mahal, semakin potensi menimbun tinggi.

Kita sudah tahu semua. Tak usah lagi pemerintah berpura-pura.

Mana mafianya?

Berapa sumbangan mereka waktu pemilu?

Salam.

Berita Terkait
Baca Juga:
Pernahkah Engkau Diikuti Kucing?

Pernahkah Engkau Diikuti Kucing?

Majalah Dinding      

27 Jan 2020 | 1138


Pernahkah kalian diikuti kucing? Ketika engkau berjalan ke kanan, ia mengikuti ke kanan. Begitu pula ketika engkau berjalan ke arah yang lainnya. Bagi kalian yang pernah mengalami hal ...

Tips untuk Menjadi Janda Berkelas dan Tidak Dipandang Sebelah Mata

Tips untuk Menjadi Janda Berkelas dan Tidak Dipandang Sebelah Mata

Tips      

5 Sep 2022 | 122


Berikut adalah tips atau cara menjadi janda sukses dan berkelas harus anda ketahui. Menjadi seorang janda di Indonesia tidaklah mudah, hal ini karena pandangan ...

Terimakasih Allah Atas Tak Terbatasnya Nikmat-Mu...

Terimakasih Allah Atas Tak Terbatasnya Nikmat-Mu...

Religi      

31 Maret 2020 | 1738


Syukurku, Allah masih memberi kesempatan dengan datangkan pagi Allah memberi udara segar untuk dihirup Allah memberi cahaya matahari untuk menghangatkan   Terimakasih ...

Tips Bagi Pengguna Kacamata

Tips Bagi Pengguna Kacamata

Tips      

19 Des 2019 | 873


Kacamata, ini adalah salah satu alat bantu yang tidak bisa lepas dari para penderita rabun jauh atau pun rabun dekat. Nah, untuk kalian pengguna kacamata, kesal tidak sih ketika kacamatamu ...

Create Your Own Weather!

Create Your Own Weather!

Inspirasi      

5 Jan 2020 | 940


Create your own weather! Ini adalah kuotes yang tidak asing di telinga kita bukan? Ciptakan cuacamu sendiri! Jangan terpengaruh oleh ‘cuaca’ orang lain. Ya, cuaca hidup ini ...

Jaga Jarak, Bentuk Sayang kepada Keluarga di Era Pandemi Virus Korona

Jaga Jarak, Bentuk Sayang kepada Keluarga di Era Pandemi Virus Korona

Inspirasi      

27 Maret 2020 | 1323


“Jika sayang, maka jaga jaraklah!” Ini adalah salah satu ungkapan yang berlaku di masa era pandemi virus korona seperti sekarang ini. Bentuk sayang yang memang masih butuh waktu ...