Mengasah Afeksi Lewat Memelihara Kucing
Oleh Writer, 12 Maret 2020
Afeksi, aku berasa mengikuti kelas perkuliahan dengan topik tersebut setelah sekian bulan berinteraksi dengan keluarga kecil kucingku. Entah bagaimana aku bisa sayang kepada kucing ini. Awalnya aku sangat biasa terhadap kucing, bahkan mungkin bisa dibilang cuek. Cuek, tapi bukan juga tidak suka. Tapi, dibilang suka juga tidak, intinya rasa awalku pada makhluk lucu itu adalah biasa saja.
Berawal dari biasa ini lah kelas ‘perkuliahan’ ini dimulai. Sekitar enam bulan lalu (aku sadari) ada beberapa kucing yang sering bersliweran di depan rumah. melihat itu, kakakku tergerak untuk memberi mereka makanan. Terkadang ketika kakakku tidak sempat memberi makan mereka, kakakku memintaku untuk menggantikan ‘tugas’ tersebut. Satu kali, dua kali, sekian kali, mulailah aku tertarik lebih jauh memberi makan kucing-kucing ini. Kala itu akhirnya aku bukan hanya memberi makan saja, aku mulai suka mengelus-elus mereka. Mereka sangat bersahabat ternyata. Sesekali aku juga berinteraksi dengan mereka.
Tak terasa hingga akhirnya sampai enam bulan aku suka memberi makan mereka. Keterikatan tampaknya mulai terjalin lebih bukan hanya hubungan pemberi makan dengan yang diberi makan saja. Di bulan ke delapan tampaknya kami sudah semakin dekat. Ketika aku pulang kerja mereka selalu mengikutiku hingga rumah. Begitu pula ketika aku hendak pergi bekerja. Mereka lah yang sering mengantarkanku hingga teras rumah.
Hari demi hari akhirnya di awali dengan berinteraksi bersama kucing dalam momen yang bernama pemberian sarapan. Bahkan ketika aku pergi ke luar kota, aku khawatir akan mereka. Aku pun kemudian menitipkan makanan mereka kepada salah seorang tetangga.
Ketika kalian ingin mengasah afeksi, ternyata bisa dengan memelihara kucing di rumah. Ya, kucing ternyata bisa menjadi dosen yang baik dalam mengajarkan afeksi! Melalui elusan, tatapan, dan interaksi dengan kucing hari demi hari, bagaimana afeksi kita tidak terasah?
Artikel Terkait
Artikel Lainnya